Jumat, 13 Januari 2012

Ketamakan Milik Siapa

Oleh: Sonny Wibisono *

�Aku rasa hidup tanpa jiwa, orang yang miskin ataupun kaya sama ganasnya
terhadap harta.�
-- Kantata Takwa dalam �Nocturno�

NAMANYA Gayus. Umurnya 30 tahun. Namanya beken saat ini. Dia menjadi salah
satu aktor dari penggelapan pajak yang merugikan negara hingga belasan
miliar rupiah. Gayus, pegawai Kantor Pajak, bermain tak sendiri. Ia bagian
dari sindikat, yang melibatkan para aparat hukum. Padahal dari kabar di
media, kita tahu gaji Gayus tidaklah kecil. Untuk golongan IIIA, ia
mengantongi sedikitnya 12,1 juta per bulan. Itu sudah termasuk gaji pokok,
ditambah tunjangan sana-sini. Tak hanya itu, istrinya juga bukan orang
rumahan.

Namanya Tourre. Umurnya tak jauh dari Gayus, 31 tahun. Jabatan mentereng di
usia muda disandangnya: Vice President Goldman Sachs. Satu perusahaan
perbankan paling beruntung sepanjang sejarah Wall Street. Tourre
ditenggarai otak dibelakang diterbitkannya CDO (collaterlized debt
obligation) yang menggunakan aset-aset kredit berbau credit suprime sebagai
aset dasarnya. Pada 16 April lalu, Goldman Sachs dan Tourre dituding oleh
pengawas pasar modal AS, Securities and Exchange Commission (SEC) telah
melakukan penipuan. Investor, menurut SEC, diperkirakan telah dirugikan
sebesar US$ 1 miliar. Goldman dituduh mengelabui investor dan tidak
memberikan informasi yang benar kepada para investornya.

Gayus dan Tourre. Sama-sama muda dan terkenal. Sama-sama dituduh curang dan
serakah. Bedanya, Gayus terbukti bersalah dan telah ditetapkan sebagai
tersangka. Ia jelas mengkorupsi uang negara. Tourre masih perlu dibuktikan.
Tapi semua tudingan dan kesalahan telah diarahkan ke perusahaan dan
dirinya.

Gayus tidak dipanggil DPR, penegak hukumlah yang mengusutnya. Tourre belum,
ia harus menjelaskannya di depan Senat. Ketamakanlah yang membawa Gayus
(dan mungkin Tourre) pada petualangan yang mengantarkannya pada persoalan
hukum. Tidak saja Gayus (dan Tourre) yang merugi, namun rentetan orang
dekatnya, termasuk anak, istri, dan keluarga besarnya ikut tercoreng malu.
Bahkan lembaga yang menaungi mereka terkena getahnya.

Perkara korupsi boleh dibilang semuanya disulut oleh ketamakan. Hal itu
yang mendorong pelakunya untuk menambah kekayaannya apa dan bagaimanapun
caranya. Membeli mobil terbaru dengan menilap uang negara. Padahal dari
kantor sudah tersedia fasilitas serupa, misalnya. Pun demikian dengan
tempat tinggal. Sejatinya dengan menempati rumah yang layak, tak perlu
bagus pun, manusia bisa hidup dengan nyaman. Namun nyatanya, lagi-lagi,
ketamakan mendorongnya pergi jauh hingga pada sebuah ketidaksadaran telah
melakukan berbagai kesalahan.

Tamak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti serakah, rakus. Sudah
banyak cerita tentang kerakusan manusia. Kharun, kisah dari negeri padang
pasir misalnya. Karena rakus dan kikirnya, dia dan seluruh hartanya
tenggelam. Itu sebabnya, temuan harta di lautan atau di mana saja sering
kita sebut sebagai harta karun.

Ada juga legenda lokal. Kita mengenal Pak Bagendit yang kaya raya. Namun
kikirnya gak ketulungan. Dia pelit. Terhadap orang miskin sekalipun.
Ketamakannya menjadi visi hidupnya. Harta menjadi panglima hidupnya. Hingga
akhirnya, seorang miskin yang sakit hati, menancapkan tongkat di rumahnya.
Dari situ muncul air, yang kemudian menggenangi rumah dan kampungnya. Tanah
itulah kemudian dikenal sebagai Situ Bagendit.

Inilah bahaya Pleonexia, tamak yang berlebihan. Tapi benarkah ketamakan
hanya milik orang mampu saja? Don McClanen bahkan menganggap kondisi yang
disebut Pleonexia telah menguasai Amerika. Katanya, �Pleonexia is an
insatiable need for more of what I already have, and it has penetrated our
culture to the point where people are angry at the poor.�

Nyatanya memang, ketamakan tak melihat status sosial. Di stasiun kereta
beberapa hari silam, seorang supir angkutan kota tetap memanggil penumpang
untuk naik ke mobilnya. Padahal di dalamnya boleh dikata sudah terisi penuh
oleh penumpang. Kalaupun dipaksa, malah membuat tidak nyaman penumpang
lainnya. Penumpang yang sudah sesak dan kepanasan memintanya untuk segera
berangkat. Namun dengan ketus, sang sopir menjawab, �ah, masih ada satu
lagi.�

Terdengar pelan sumpah serapah dari beberapa penumpang. Setengah berteriak,
satu orang berujar bernada memprovokasi, �Kelamaan, kita keluar aja cari
yang lain!� Mendengar ajakan tersebut, tanpa dikomando lagi, sontak para
penumpang yang telanjur sudah lama menunggu berhamburan meninggalkan angkot
itu. Hasilnya, angkot itu kosong melompong. Tinggal si supir yang melongo.

Andai saja dia mau jalan, sudah tentu rezeki menjadi miliknya. Rezeki yang
halal untuk anak dan istrinya di rumah. Sedikit rezeki teramat berarti bagi
kelangsungan keluarganya. Namun apa daya, ternyata ketamakan membuat dia
membuang rezeki di depan mata. Ini ibarat peribahasa lama, �mengharap hujan
dari langit, air di tempayan dibuang.�

Ketamakan pada akhirnya hanya menjadi panglima yang membimbing pada
ketiadaan. Nafsu besar mengumpulkan harta lebih baik ditinggalkan. Sekecil
apapun, bersyukurlah terhadap rezeki yang diperoleh. Dan cukup pula untuk
berbagi dengan sesama yang kekurangan. Bukan begitu, kawan?

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009

Minggu, 30 Oktober 2011

Bahagia Menjadi Guru

"Happiness comes of the capacity to feel deeply, to enjoy simply, to
think freely, to risk life, to be needed. � Kebahagiaan berasal dari
kapasitas untuk merasakan, menikmati, berpikir bebas, menghadapi
resiko hidup, dan menjadi dibutuhkan."
Storm Jameson.

Kebahagiaan adalah ide yang sangat abstrak dan bersifat sangat
subyektif. Kebahagiaan dapat terkait dengan tercapainya suatu
keinginan atau kebutuhan kita. Tetapi kebahagiaan seorang guru
menurut saya sangat terkait dengan tanggung jawabnya mendidik dan
mengajarkan nilai-nilai penting dan inspiratif terhadap para
siswanya. Ketika seorang guru dapat melakukan beberapa hal berikut
ini kemungkinan besar ia dapat memiliki semua sumber kebahagiaan
bahkan lebih dari semua yang dipaparkan oleh Storm Jameson tersebut.

Seorang guru bahagia karena ia mencintai profesi sebagai pendidik.
Ia mendapatkan kepuasan tersendiri ketika dapat mendidik para murid,
walaupun mungkin kehidupan pribadi mereka sederhana dan jauh dari
kemewahan. Seorang guru akan jauh lebih bahagia, jika apa yang telah
mereka lakukan tak hanya membuat para murid pintar melainkan
menginspirasi bahkan menggerakkan para murid untuk mengubah diri
mereka menjadi lebih baik.

Mencintai proses pembelajaran dengan memperluas wawasan ilmu
pengetahuan melalui berbagai macam buku, seminar, kaset, radio dan
lain sebagainya adalah sumber kebahagiaan seorang guru. Karena
tanggung jawab seorang guru bukanlah sekedar menjelaskan subyek atau
materi pelajaran, melainkan memberikan contoh sikap bahwa kemauan
untuk terus belajar dapat meningkatkan kreatifitas dan memaksimalkan
potensi diri. Seorang guru akan semakin bahagia jika mampu
menginspirasi para siswa belajar lebih giat.

Rasa syukur yang besar terhadap Tuhan YME mendatangkan keindahan dan
kebahagiaan. Rasa syukur membuat guru lebih bahagia, karena rasa
syukur itu membuatnya dapat menjelaskan ilmu pengetahuan kepada para
muridnya dengan bahasa yang positif pula. Ia akan lebih bahagia jika
sikap yang positif serta ilmu pengetahuan yang ia sampaikan
menginspirasi para muridnya untuk lebih kreatif dan positif dalam
menggunakan ilmu pengetahuan tersebut.

Seorang guru akan bahagia jika tidak membebani hidupnya dengan
orientasi mendapatkan imbalan. Ia bahagia karena tidak pernah
mengharap balas jasa dari murid atas semua yang diberikannya. Ia
sudah cukup senang dapat mengabdikan diri untuk membentuk para tunas
bangsa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Guru akan bahagia jika berhasil membangkitkan semangat para murid
yang nyaris terpuruk karena kehilangan jati diri. Untuk semua itu ia
akan rela melakukan apapun, walaupun harus menghadapi banyak
kesulitan. Mendampingi dan membentuk anak-anak didik menjadi tegar
dan optimis, baginya jauh lebih menyenangkan dibandingkan apapun
juga.

Seorang guru bahagia, jika ia menjadi diri sendiri dan tidak
membandingkan dengan orang lain. Ia bebas berekspresi sebagai diri
sendiri dalam menyampaikan ilmu pengetahuan agar terserap dan
bermanfaat bagi anak didiknya. Ia akan berbahagia jika etika yang ia
tunjukkan itu dapat menumbuhkan keberanian para murid untuk
menjalani kehidupan dengan jujur dan menghargai diri sendiri.

Guru bahagia karena ia mencintai murid-muridnya, bagaimanapun
keadaan mereka. Ia menikmati saat bersama-sama berjuang melawan
keterbatasan diri dengan ilmu pengetahuan dan budi pekerti.
Sebagaimana M. Scott Peck mengatakan, "When we love something it is
of value to us, and when something is of value to us we spend time
with it, time enjoying it and time taking care of it. � Ketika kita
mencintai sesuatu maka itu akan berarti bagi kita. Ketika sesuatu
berarti bagi kita, maka kita akan senang menghabiskan waktu
untuknya, menikmatinya, dan memeliharanya".

Guru yang bahagia adalah guru yang terus memperkaya ilmu
pengetahuannya. Dengan demikian ia dapat mengkreasikan metode
mengajar, sehingga para murid dapat dengan mudah menyerap ilmu
pengetahuan yang ia sampaikan. Semakin luas ilmu yang ia miliki,
semakin mudah baginya mengubah kesulitan hidup menjadi anugrah yang
membahagiakan.

Seorang guru bahagia, karena kehidupannya berjalan seimbang.
Keseimbangan tersebut dikarenakan ia mampu memanajemen waktu. Ia
dapat menggunakan waktu secara efektif dan proprosional untuk diri
sendiri, keluarga, profesi, kegiatan sosial, belajar dan beribadah.
Sumber kebahagiaan seorang guru berasal dari dalam dirinya sendiri.
Ia bahagia ketika mampu menginspirasikan harapan, kebahagiaan,
kekuatan sekaligus nilai-nilai moralitas kepada generasi masa depan.
Ia akan lebih bahagia jika para anak didik itu mampu melakukan hal
serupa dengan dirinya.

Note : Artikel ini adalah inti pembicaraan di Seminar
Pendidikan "Menjadi Guru Yang Menyenangkan, Inovatif dan Kreatif."
(Anjuran Yayasan Pendidikan Sinar Dharma)

Sumber: Bahagia Menjadi Guru oleh Andrew Ho, seorang pengusaha,
motivator, dan penulis buku-buku best seller.

Minggu, 11 September 2011

7 Film Hollywood Yang Menghina Indonesia

Diambil dari web sebelah, ada beberapa Film yang nampaknya secara sengaja atau tidak sengaja "menghina" Indonesia, diantaranya :
1. House (Serial TV)
Film seri di Starworld. Si dokter House lagi ngobatin anak yang sakit parah banget dibilang sama si dokter, kira-kira begini, �anak sakit parah begini tinggalnya pasti di Indonesia�.

2. Looking For Jackie Chan
Film yang menceritakan anak indonesia keturunan china fans berat jackie chan hingga akhirnya ketemu sang idola. Anak ini memiliki sikap khas indonesia, "MELANGGAR ATURAN", diantaranya saat menerobos satpam & lari dari rumah (pergi ke rumah neneknya di beijing tapi malah ga sampe tempat).

3. In The God Hand
Film tentang selancar dari Hawai ke Bali. Waktu itu ada peselancar2 muda dari Amerika yang nyoba semua ombak yg ada di dunia. Saat itu di Lombok/Bali, ceritanya mereka ketangkep polisi Indonesia, trus polisinya disuap dengan cara �salaman dengan nempelin duit ke tangan polisi�. lolos deh mereka.

4. Lethal Weapon 4
Dalam salah satu adegannya, Danny Glover memaki-maki dengan mimik khasnya, �Kapal bodoh ini dibuat oleh seorang yang berasal dari Indonesia�. Wah, ngeselin banget ya. Ceritanya imigran china yang diselundupkan pake kapal yang diatasnamakan sebuah perusahan di Indonesia, (tapi fiktif). Coba deh perhatikan waktu Mel Gibson and the geng lagi ngobrol di markas sebelum menyerbu Uncle Benny. 'Jadi, Indonesia digambarkan sebagai negara yang selalu bikin kacau�.

5. The Year Of Living Dangerously
Film ini berkisah tentang seorang wartawan yang dikirim untuk bertugas di Jakarta pada tahun 1965-1966. Saat itu, Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno sedang mengalami krisis politik dan ekonomi.Tak heran, situasi Jakarta digambarkan sangat kacau, lengkap dengan embel-embel penduduk yang merana karena kelaparan. Dimeriahkan oleh akting dari Mel Gibson dan Sigourney Weaver. Syutingnya sendiri dilaksanakan di Bangkok, karena tidak diijinkan pemerintah di Jakarta. (tanya kenapa?). Hehehe. Akibatnya meski ada beberapa dialog menggunakan Bahasa Indonesia, namun karena aktornya adalah orang bangkok, maka ucapannya terdengar aneh di telinga. Adegan yang paling terkenal sewaktu temennya Mel Gibson, Billy Kwan (ni artis cewek cuman di film ini main jadi cowok) ngegantungin spanduk di hotel Indonesia (ceritanya) dengan tulisan SOEKARNO FEED YOUR PEOPLE. Saat Oscar 1982, film ini menang untuk artis terbaik Linda Hunt.Fim ini gak cuman nyebutin indonesia tapi tentang Indonesia. Jadi, dalam film ini, Indonesia digambarkan sebagai negara penuh konflik.

6. West Wing
Sebuah serial tv yang bersetting gedung putih, dengan tokoh presiden Amerika fiktif President Bartlett (Martin Sheen) beserta stafnya. Salah satu episodenya menceritakan tentang kesibukan gedung putih dalam menerima kunjungan presiden Indonesia (tentu fiktif juga) namanya Siguto (mungkin maksudnya Sugito, hahaha). Dari awal film iniIndonesia terus dijelek-jelekkan, sehingga sempat bikin kesel waktu nonton (hehehe), masa ada kalimat begini yang diucapkan seorang staf gedung putih kepada seorang staf gedung putih lainnya: �Hati-hati jangan bikin orang indonesia tersinggung, atau kepalamu akan dipenggal dan diarak keliling kota�. Staff yg memperingatkan itu bilang dia lihat di internet, trus staff yang satu lagi enggak percaya.

Jadi untungnya yang nonton West Wing juga emang gak diarahkan untuk percaya kaloIndonesia seprimitif itu. Belum lagi informasi yang salah tentang Indonesia. Digambarkan juga bahwa orang Indonesia adalah bangsa yang bodoh dan tak bisa berbahasa Inggris. Trus, ceritanya presiden Indonesia datang (dan lagi-lagi berwajah Jepang) namun gerak-gerik dan tata bahasanya mengingatkan kita sama presiden Gus Dur (Hehehe, gak tau sengaja apa enggak). Si pemeran bapak dan ibu Siguto sebagai Pres RI ini cuman kebagian disorot dari belakang, yang penampilannya jadul abisss. Pak Presiden pake peci, istrinya pake kebaya dan dikonde hehehe. And mereka sipit bangetss, mungkin cari muka melayu susah, jadi sutradara menyamaratakan orang Asia gitu aja. Diceritain disini staff gedung putih kebingungan nyari translator karena mereka bilang Indonesia speaks in 300 different languages, dan dibilang kita gak punya bahasa nasional. Disini ngaconya! Tambahan lagi staff Indonesia itu ceritanya orang Batak, dan kacaunya lagi namanya: Rahmahidi Sumahijo Bambang (lucunya waktu tuh bule ngucapin nih nama), mana nama bataknya? Kayaknya gak pernah denger ada orang Batak namanya Rahmahidi Sumahijo, orang Jawa aja kayaknya ga ada.

Ketika presiden sedang konferensi pers, para stafnya pun melakukan pertemuan informal dan mereka pusing nyari translator karena ada 1 orang yang bisa Bahasa Batak, dan dia orang Portugis, tapi tuh orang ga bisa Bahasa Inggris, jadi di film ini ceritanya mereka nyari 2 orang akhirnya buat translate Inggris->Portugis, Portugis-> Batak. Mereka berusaha menjelaskan jika mereka akan membantu perekonomian Indonesia dengan syarat beberapa tahanan politik dibebaskan. Untungnya, ending film ini bagus. Ketika mereka bersusah payah berbicara Batak dan Portugis, tiba-tiba, staf indonesia yaitu si Bambang ini (yang ini mukanya emang melayu..ga tau apa indonesia beneran..) itu bicara bahasa Inggris dan memaki-maki para staf gedung putih �Anda pikir kami bangsa yang bodoh?

Anda pikir kami tak tahu anda anggap apa bangsa kami dan apa anda pikir kami tak bisa berbahasa Inggris? Kami mengerti semua perkataan anda bahkan arah pidato presiden anda kami sangat paham. Tapi kami bangsa yang berdaulat. Jangan mentang-mentang anda negara kuat seenaknya saja mengatur kebijakan dalam negri kami. Urus saja urusan dalam negeri anda. Dan satu hal, daripada kami mengikuti kemauan Anda, lebih baik kami tak usah dibantu sama sekali�. Bagus banget endingnya.
Sayang cuma di film ya�

7. The Silence Of The Lambs
Dalam film yang thriller psikologi yang dibintangi Jodie Foster ini ada adegan dimana di sweater orang yang diculik kanibal itu tertulis �MADE IN INDONESIA�. Apakah imageIndonesia sudah sebagai negara yang banyak penculikan atau karena kita produsen tekstil?

SUMBER

http://www.laskarcerita.com/2011/09/7-film-hollywood-yang-menghina.html
Lintasberita.com



sumber: http://www.laskarcerita.com/2011/09/7-film-hollywood-yang-menghina.html#ixzz1XerPj3Pv

Selasa, 06 September 2011

Hidup Adalah Pilihan, Sekarang atau Nanti Sama Saja

Anonim

Dicontohkan sebagai berikut :
Seorang wanita, katakan A. Dia tergoda untuk berkenalan lebih jauh dengan teman pria-nya yang ia kenal tanpa sengaja di Sekolahan. Kebetulan si pria pun juga membuka hatinya. Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Subhanallah :)

Ada dua pilihan untuk sang wanita. Pertama, sebenarnya dia sudah memiliki kekasih, tapi dia masih ragu. Tiba-tiba dia dipertemukan dengan seorang pria yang sebelumnya tidak ia kenal lalu mendadak cepat akrab (apa ini jawaban semua doa, wallahu alam). Jarang-jarang lho begini (dalam batin si wanita).

Kedua, dia menyempatkan diri untuk berpikir dan merenung sebelum bertindak. Dosa menjadi konsekuensi pertamanya. Karena mau tidak mau kalau dia semakin dekat dengan pria tersebut, dia akan mengingkari hubungan dengan kekasihnya. Lalu bagaimana kalau teman-teman lainnya mengetahui hal ini? lalu apa pula kata keluarga besar saya, dan kekasihnya? Apa tidak jadi bahan omongan orang lain? lalu Bagaimana nantinya? Pusing kan? Tanya Kenapa�..Nah, itulah pilihan.

Menurutku sih, kita kembalikan pada hati dan keyakinan. Toh, ikatan tali pernikahan juga belum terlaksana, apa salahnya si wanita mencoba mempertimbangkan pilihan lain yang telah diberikan Allah swt. Memang sulit, tapi itulah hidup, makanya kita kembalikan lagi ke hati. Bila sudah tidak sreg atau tidak cocok, buat apa dipertahankan, mumpung belum menjalin ikatan pernikahan (segala pertimbangan dan konsekuesi harus diperhitungkan masak-masak)

Eh, maaf. Apakah hubungan yang dalam taraf ta'ruf atau pacaran, lalu pihak wanita mempertimbangkan pria lain itu bisa juga disebut perselingkuhan ? (kan disebut perselingkuhan kalau sudah menjadi suami-istri), susah memang mengartikan itu semua, saya juga pusing memikirkan itu semua #looh kok jadi gwe#. Saran aku sih lewat contoh tersebut, "Jaga Hijab" biar tidak menimbulkan fitnah, tidak hanya bagi wanita dengan kekasihnya, tapi juga dengan pria sosok idamannya yang lain itu. Setuju ? toh juga kalau jodoh ga akan kemana-kan? :) tapi tetep harus memilih #yaaaah, tetep ujung-ujungnya harus dipilih :(

Contoh di atas tidak jauh dari yang namanya pilihan. Setelah tanda-tandanya, masak sih nggak terasa? pasti terasa. Masalahnya cuma satu. Ada kontrol terhadap diri kita tidak. Jangan bicara iman dahulu deh. Percuma kalau ngakunya beriman tapi tidak bisa menguasai diri dan perasaan kita.

Hidup ini cuma memang pilihan dengan segala konsekuensinya. Terkadang kita juga tidak tahu persis apakah yang kita pilih itu benar atau salah. Yang pasti cuma ada 3 :

Manusia pasti akan meninggal
Dunia pasti akan kiamat
Masuk surga atau neraka
Hidup memang harus kita jalani dan biarkan seperti air mengalir. Begitu kata kebanyakan orang kan?

Pertanyaannya : Air itu mengalir ke mana?

Hukum alam (kayaknya kalau nggak salah yang gravitasi dan sifat air ya?) mengatakan bahwa air selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Bersifat seperti air mengalir adalah baik lho. Contohnya, di sungai dari hulu ke hilir, ada batu yang menghalanginya ada nggak air yang yang hancur? Sifatnya fleksibel. Ini dari sudut pandang saya lho.

Lalu ke mana air mengalir? Pastilah ke bawah dong. Gimana sih�.. Ada yang ke hilir danau yang bersih. Tapi ada juga yang masuk ke comberan yang bauk. Ada juga yang diminum manusia dan ujung-unjungnya ke septic tank juga. Mau pilih yang mana? Pikir saja sendiri. Tanya kok bisa begini? kenapa ?

Disadur dari berbagai sumber dan inspirasi

Senin, 29 Agustus 2011

Eksotisme Yogyakarta dalam Film Indonesia Banal, Binal, dan �Ndeso

(disadur dari Rumah FIlm)



Apakah Yogyakarta hanya Malioboro, Wijilan, Tugu, dan desa-desa bersawah luas? Tentu tidak. Untuk pilihan tempat makan kaki lima, Anda bisa mengunjungi UGM Boulevard di wilayah utara. Pasar Beringhardjo, di Malioboro, memang merupakan salah satu pilihan tempat berbelanja, namun bukan satu-satunya. Barang bekas bertumpuk di Pasar Klitikan, barang-barang kerajinan berbahan rotan di Godean, atau batik di Imogiri dan Taman Sari. Bahkan komplek pelacuran, entah legal atau tidak, bukan hanya Pasar Kembang di Malioboro, tetapi juga di Kotagede.



Tugu memang menjadi landmark kota pelajar ini, tetapi penggambarannya dalam sejumlah film kerap menimbulkan kesan bahwa pembuatnya perlu cara cepat untuk menunjukkan bahwa kota yang diceritakan adalah Yogyakarta. Bersama Pasar Kembang, Malioboro dan Wijilan, lokasi-lokasi itu menguasai lanskap kota Yogyakarta dalam film Indonesia.



Lihat misalnya Mengejar Mas-mas (Rudi Soedjarwo, 2006). Dalam film ini, lokasi-lokasi tersebut tampil sesuai dengan kenyataan, tetapi keliru dalam mewakili kehidupan kota Yogyakarta. Shanaz (Poppy Sovia) tiba di Stasiun Tugu tanpa membawa uang. Bagi saya, ganjil rasanya melihat Parno (Dwi Sasono), pengamen dan penduduk kota asli, membawa Shanaz makan gudeg di Wijilan dan digambari karikaturnya oleh seniman jalanan. Kegiatan ini memerlukan biaya yang mahal apabila diukur dengan standar Yogyakarta. Apalagi mengingat Parno hanyalah seorang pengamen dan, saya ulangi, Shanaz tidak membawa uang sama sekali. Mereka kemudian menghabiskan hari di desa bersawah luas dan berpemandangan indah � yang bagi saya adalah salah satu bentuk eksotisme.



Tak jauh berbeda, adalah Cerita Yogya, karya Upi Avianto dalam omnibus film Perempuan Punya Cerita (2008), produksi Kalyana Shira. Yogyakarta digambarkan Upi melalui Malioboro, Wijilan, Tugu, dan Stadion Kridosono. Yang terakhir ini adalah tempat muda-mudi dalam filmnya menghabiskan waktu luang. Stadion Kridosono hanya akan Anda temukan ramai saat konser musik, bukan pertandingan sepak bola, apalagi tempat nongkrong anak-anak muda.



Cerita Yogya juga menceritakan tentang sebuah warung internet (warnet) yang menyediakan bilik untuk berhubungan seks jangka pendek beserta penjaganya yang selalu terlihat membaca koran merah atau buku stensil. Sekelompok anak-anak pria yang nongkrong di warnet itu, digambarkan mencari film porno di Malioboro. Apabila Anda ke Malioboro, Anda tidak akan menemukan satupun penjual CD/VCD/DVD.



Masalahnya adalah, pembuat film mencari jalan pintas untuk menunjukkan bahwa lokasi dalam filmnya adalah Yogyakarta. Peminjaman tempat sepintas beserta bagian-bagian yang ada di tempat tersebut sambil lalu, dalam film, seperti yang dilakukan beberapa pembuat film pada contoh di atas disebut visit filmmaking (atau tourism filmmaking). Sebenarnya sah saja sebuah film menampilkan apapun yang diinginkan pembuatnya, tidak harus sesuai dengan keadaan di luar film�toh ini bukan dokumenter�selama logika penonton akan film dan ceritanya dikonstruksikan dengan baik sejak awal.



Eksotisme menjadi kata kunci dalam hal ini. Coba lihat beberapa adegan terakhir 3 Hari untuk Selamanya (Riri Riza, 2006), tentang perjalanan Yusuf (Nicholas Saputra) dan Ambar (Adinia Wirasti) menuju rumah nenek mereka di Yogyakarta. Setelah mereka berputar-putar selama tiga hari �seharusnya hanya setengah hari, mungkin untuk mencapai durasi film layar lebar yang umumnya kurang lebih 100 menit� sampailah mereka di rumah sang nenek yang modern secara arsitektur dan interior. Rumah nenek memang tidak harus rumah joglo dan kuno, tapi sangat klise ketika isinya penuh dengan barang-barang nonfungsional nan eksotis. Tatanan rumah yang dipenuhi dengan perabotan eksotis ini tidak punya relevansi apapun dengan cerita.



Tak berbeda dengan lokasi, manusia di dalam film-film ini juga digambarkan dengan steroetipe. Cerita Yogya menggambarkan muda-mudi Yogyakarta sebagai manusia-manusia banal dan binal. Film diawali dengan seorang perempuan berseragam SMU, marah dan setengah berteriak di depan orang banyak, meminta pertanggungjawaban seorang pria, berseragam juga, karena temannya yang adalah pacar pria itu hamil. Si pacar menolak, karena toh perempuan itu �digilir� bersama teman-temannya yang lain.



Kumpulan anak muda ini terasa ganjil�bagi saya�karena beberapa siswa SMU yang saya kenal ternyata masih menemukan kesulitan untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada lawan jenisnya. Beberapa dari anak perempuan SMU di Yogyakarta memang ternyata sudah bertunangan atau dijodohkan orangtuanya, tetapi ketika menghadapi pria yang disukainya, pipi mereka masih memerah karena malu. Walaupun anak-anak perempuan itu juga bermain biliar, pergi ke klub-klub malam, dan (beberapa) merokok (diam-diam), mereka masih saling mendiskusikan balasan SMS untuk teman pria yang sedang disukai atau pacarnya.



Bisa saja kelompok anak muda yang kesehariannya bukan hanya membicarakan dan bercanda tentang hubungan seks, tetapi juga memraktikkannya tanpa perasaan malu dan bersalah, dalam Cerita Yogya itu benar-benar ada di Yogyakarta. Masalahnya film pendek yang ditulis oleh Vivian Idris ini tidak berhasil membuat saya merasa bahwa kumpulan anak muda ini berada dan berasal dari Yogyakarta.



Skenarionya terasa pretensius. Di dalam kamar hotel Jay (Fauzi Baadila), Safina (Kirana Larasati) dengan senyum lugu-tapi-nakalnya mengatakan bahwa ia dan teman-temannya tidak seperti anak-anak Jakarta yang harus check in (ke hotel) untuk berhubungan seks. Adegan berlanjut ke sebuah kamar, yang dari luar terdengar jelas suaranya, dimana sepasang remaja sedang melakukan hubungan seks. Di luar kamar ada beberapa pasang muda-mudi yang berkumpul sambil bermain Play Station, bermesraan, bersenda-gurau, merokok, dan minum minuman keras. Seorang ibu berjilbab, yang adalah ibu pemilik rumah yang mereka tongkrongi, lewat sambil berbasa-basi ramah dengan mereka�lucu bagi saya, karena saya, seorang perempuan dewasa, merokok di lobi pascasarjana sebuah kampus saja hampir selalu menjadi pusat perhatian dan dipandangi dengan seksama, dari sepatu hingga rambut, oleh para perempuan berjilbab yang lalu lalang.



Mengejar Mas-mas menggambarkan lingkungan pertetanggaan di Yogyakarta, di daerah pelacuran Pasar Kembang, maupun di sekitar rumah tinggal Ningsih alias Norma (Dinna Olivia). Ibu-ibu tetangga Ningsih digambarkan bodoh dengan perlu diberitahu akan keberadaan Menteri Negara Urusan Perempuan. ��ndak boleh percaya 100% sama suami! Jangan takut masalah hak wanita! Lha wong sekarang ini, sudah ada departemennya sendiri loh, untuk urusan wanita� Iya! Ada menterinya juga loh! Eh, menterinya itu wanita, lagi!� demikian penjelasan Ningsih yang mengaku berprofesi dosen kepada sejumlah tetangganya yang manut saja. Demikian cara film ini menggambarkan lingkungan Yogyakarta yang dihuni oleh wong �ndeso, padahal daerah tempat Ningsih tinggal adalah sekitar Malioboro, pusat kota.



Guntur Soehardjo dalam karyanya Otomatis Romantis (2008) secara tidak langsung mengamini stereotipe penduduk Yogyakarta yang dibangun oleh film-film sebelumnya, bahkan tanpa perlu menggunakan latar kota Yogyakarta.



�Bambang yang orang Yogya itu?� tanya Nadia (Marsha Timoty), pemimpin redaksi majalah GAYA, pada penata busananya. Nadia marah besar saat tahu salah satu modelnya batal datang pemotretan dan si penata busana menggantinya dengan Bambang Setiadi (Tora Sudiro), pesuruh kantor. Anda akan sering menemukan kalimat tadi dengan nada yang variatif dalam film yang mengangkat tentang tema klise hubungan antara atasan dan bawahan ini.



Saya ingat bahwa kalimat itu selalu muncul, walau kadang dalam tatanan bahasa yang berbeda, saat Bambang sedang melakukan hal-hal yang tidak �kampungan�, seperti dipilih sebagai model untuk setahun dengan pemasang iklan di majalah tempat ia bekerja. Semua bermula ketika Bambang mengajukan diri untuk mencoba menulis artikel dalam majalah yang digambarkan mirip dengan Cosmopolitan ini. Ia mengaku pernah menjadi penulis sebelumnya di Yogyakarta, �kampung�nya. �� di majalah petani,� aku Bambang dengan muka sumringah dan logat medok yang tidak pas. Pernyataan Bambang ini membuat kota asalnya seakan-akan adalah desa, maka Bambang harus selalu �ndeso dan �kampungan�. Padahal sepenglihatan saya, Yogyakarta adalah sebuah kota.



Menurut hemat saya, Yogyakarta sebagai daerah urban disorot dalam Cerita Yogya dengan berlebihan. Penggambaran kehidupan seksual remaja dalam film ini tidak sama sekali merepresentasikan muda-mudi Yogyakarta. Walaupun sejumlah penelitian membuktikan bahwa Yogyakarta adalah kota dengan angka keperawanan pelajar paling rendah, rasanya kebudayaan Jawa yang kental tidak mengizinkan adanya kevulgaran yang sedemikian rupa dalam pergaulan sehari-hari.



Simak beberapa tokoh perempuan dalam film pendek, yang merupakan salah satu dari empat film, yang dinyatakan para pembuatnya sebagai film tentang, oleh, dan untuk perempuan ini:



(1) pemakai seragam putih abu-abu dan berjilbab yang asyik saja merokok di tempat umum tanpa dikomentari orang-orang sekitarnya, sementara seorang turis domestik yang merokok sambil berjalan di sepanjang Malioboro saja menjadi pusat perhatian;



(2) siswi SMU yang tetap nongkrong bersama orang-orang yang menghamilinya tanpa beban, padahal ia digambarkan panik akan kehamilannya, takut aborsi, sehingga akhirnya meminta dikawini; dan



(3) perempuan munafik yang berpikir logis, awalnya terlihat lebih berprinsip daripada yang teman-temannya, dan akhirnya menyerahkan keperawanannya pada seorang baru atas nama cinta, padahal ia tahu pemuda ini hanya pendatang yang tinggal di hotel, bukan kost (yang berarti sangat sementara).



Sedangkan tokoh-tokoh lawan jenisnya:



(1) pria SMU yang rela pacarnya �digilir� teman-temannya, namun takut ketahuan ibunya sedang berhubungan seks;



(2) pria berseragam putih abu-abu dengan wajah muda yang dengan bangganya memamerkan bahwa ia telah memerawani gadis berseragam putih biru, tetapi terlalu bodoh untuk menyadari bahwa ia dicurangi teman-temannya sehingga harus menikahi perempuan yang �digilir� tadi; dan



(3) pria yang menawarkan solusi mengawini perempuan hamil tadi dengan cara mengundi nama dalam kaleng bir bekas dengan alasan semua merasakan enaknya, tetapi tidak tahu apa itu Miyabi�alias Maria Ozawa, bintang film porno Jepang yang sangat populer.



Lain halnya dengan Cerita Yogya, Mengejar Mas-mas menggambarkan ekspresi kaget, takut, bercampur jijik di muka pemuda berprofesi pengamen di Malioboro itu pada saat Shanaz berkata �� gua udah bosen ngeseks!�. Film ini membangun stereotipe pemuda Yogyakarta. Lihat saja baju lurik dan blangkon yang selalu dikenakan Parno. Apabila Anda bertandang ke Yogyakarta, saya jamin Anda akan kesulitan menemukan pengamen muda di Malioboro mengenakan celana batik, apalagi baju lurik.



Parno juga dikenalkan sebagai pemuda bersepeda, yang memang sesuatu yang akan sering Anda temukan di Yogyakarta, yang terlalu bodoh untuk memperbaiki rem blong yang menyebabkannya jatuh�adegan ini memang lucu saat pertama kali muncul, tetapi untuk yang kedua dan ketiga, terlihat seperti penulis skenarionya, Monty Tiwa, kehabisan cara melucu. Parno dan pola pikir sederhananya juga digambarkan tidak punya harga diri. Sepulang berkencan, ia menemukan pacar Shanaz telah menunggu. Shanaz memperkenalkan Parno sebagai ojek sepeda yang telah membawanya berkeliling kota seharian, sehingga pacarnya kemudian memasukkan sejumlah uang ke dalam kantong Parno sebagai tanda terimakasih. Tanpa perlawanan dan ekspresi, Parno nrimo kemudian pergi.



Nrimo . Itulah respon yang saya dapatkan dari beberapa teman saya yang sudah lama menjadi warga Yogyakarta atas film-film ini, bahkan dari mereka yang penduduk asli. Mereka hanya tertawa dan mengatakan bahwa itu �bumbu� dalam film. Saya heran, karena saya, yang bukan orang Yogyakarta, merasa terusik melihat kota ini digambarkan dengan cara demikian. Apalagi membayangkan film-film ini ditonton oleh banyak orang yang kemudian �percaya� bahwa seperti yang diceritakan itulah wajah Yogyakarta. �Ih, masak sih Yogya segitunya?� komentar seorang perempuan paruh baya, dengan penampilan kantoran, di depan barisan yang saya duduki ketika menonton Perempuan Punya Cerita di Senayan XXI, Jakarta. Para pembuat film yang saya ceritakan di atas seperti kekurangan waktu penelitian dalam pembuatan skenario dan kekurangan dana produksi untuk menggunakan lebih banyak tempat. Sementara Daun di Atas Bantal (Garin Nugroho, 1998) berhasil membuat penonton merasakan Yogyakarta tanpa perlu mengeksploitasi lokasi-lokasi eksotis, film-film lainnya malah mengeksploitasi eksotisme untuk jalan pintas mengomunikasikan latar filmnya adalah kota Yogyakarta.***



Grace Samboh sedang menjalankan studi di Pascasarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dengan jurusan Pengajian Seni Rupa.

Jumat, 26 Agustus 2011

Review Mudik ke Jogja naik Kuda Besi





Sekelumit cerita dari Heli yang selalu ceria





Mungkin sudah ratusan kali saya memaai jasa kereta api untuk balik ke jogja dari jakarta. Tidak hanya saat mudik saja lo, tapi juga saat libur sabtu-minggu. Tapi nampaknya ada yang berbeda mudik tahun ini, menurutku sih. Selain karena bisa pulang kampung H-3 Lebaran, saya memanfaatkan kereta api transit atau buan tujuan utama.



Tanggal 28 Agustus 2011 saya memutuskan mudik menggunakan kereta api Gajayana jurusan jakarta- Malang (Malang?, kan gwe mau ke Jogja). Jangan salah dulu, kereta ini nantinya akan berhenti sejenak di stasiun Cirebon, Purwokerto, Gombong, Yogyakarta, Solo Balapan, Madiun, Kediri, TulungAgung, Blitar, dan berakhir di Malang. Berangkat dari stasiun gambir pukul 17.30 WIB, tapi aku sudah menunggu di stasiun sudah dari jam 4 sore (set dah, lama banget).



Tapi menurutku sih, 1,5 jam menunggu di stasiun ga begitu lama, karena ada yg berbeda di stasiun gambir dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Apa saja itu ?



1. Ada hiburan Band-nya lo (yang nyanyi lumayan bikin ga ngantuk :), kadang bisa request juga lo, mau karokean juga bisa...wuidiiiih (full band cuy)







(Maaf motonya sambil nyuri-nyuri)



2. Diterapkannya sisitem buka tutup penumpang kereta

Jadi bagi penumpang yang keretanya belum siap, ga boleh nunggu diatas. yang boleh naik keatas bagi caon penumpang yang keretanya sudah standby (jadi lebih tertib sih)







(sebenarnya ga tertib-tertib amat sih, kelakukan penumpang indonesia emang susah dirubah. Kalau duduknya sudah PW susah dipindah...fiuuuh)



3. Aku rasa pengamanan stasiun jadi lebih ketat :)------> atau gara-gara sehari sebelumnya ada kereta api gajayana di bajak seorang marinir ya (waduuuuh).....makanya di perketat karena banyak media yang bersliweran... (sekalian narsis)







(campersnya indosiar sedang cari moment, "paaaak aku diwawncarai dong" :)



Aku rasa sih cuman itu saja yang membuat mudik ini terasa beda dengan tahun-tahun sebelumnya. tepat pukul 17.30 WIB kereta api Gajayana yang aku tunggangi berangkat (aku sih berharap ada drama pembajakan lagi, biar aku dapat moment langka------haiyaaaah)









Syukur Alhamdulillah, aku tiba di Jogja tepat Pukul 02.00 tgl 29 Agustus 2011...SELAMAT DATANG DI JOGJA TERCINTA







Tunggu, review perjalanan balik dari Jogja ke Jakarta tagl 6 September 2011 hanya di : www. malunanyadong.blogspot.com



Terima Kasih Cintaku..



By: M. Agus Syafii



Pernahkah ketika istri mengambil secangkir teh untuk anda dan anda mengucapkan kata mesra kepada istri anda, "Terima kasih cintaku.." Kemudian terlihat istri tersipu malu dibuatnya. Marilah para suami merenungkan, Apakah anda merasa bahwa istri anda adalah anugerah yang Allah berikan untuk anda? Bila kita menyadari istri adalah sebuah anugerah yang Allah berikan untuk kita maka kita akan memperlakukan dengan yang terbaik untuk istri kita sesuai yang Allah amanahkan, membimbingnya, menjaga dan mencintainya dengan setulus hati. Hanya dengan cara seperti itulah kita mensyukuri anugerah Allah. Sebagaimana Rasulullah telah mengingatkan kita, "Barang siapa mendapatkan nikmat, Allah senang melihat bekas-bekas nikmatNya itu pada diri hambaNya." (HR. Ahmad).



Kehidupan rumah tangga begitu sangat indahnya bila kita menghiasi dengan cinta dan kasih sayang. Suami istri saling mengasihi dengan kelembutan, tutur kata yang mesra. Sekali waktu bertengkar karena terkadang pertengkaran dibutuhkan sebagai bentuk dinamika dalam berumah tangga karena begitulah keindahan berumah tangga. Selain dengan menunaikan hak dan kewajiban yang melekat pada ikrar suci perkawinan, dengan memperlakukan dengan istimewa penuh dengan penghargaan, banyak hal yang kita bisa lakukan untuk mensyukuri nikmat Allah, salah satunya dengan menyatakan cinta kita kepada istri. "Dan adapun dengan nikmat dari TuhanMu, maka sampaikanlah(sebut-sebutkanlah)" (QS. Adh-Dhuha : 11).



Memanggil istri dengan sebutkan mesra, "cintaku.." menjadi cara bagaimana kita mensyukuri nikmat dan anugerah Allah yang limpahkan untuk kita sebagai suami. Niat kita melakukan adalah untuk menciptakan suasana mesra melanggengkan ikatan batin dan menjaga keharmonisan pernikahan kita untuk menggapai ridha Allah. Keridhaan Allah terpancar dari wajah dan tutur kata pasangan suami istri yang menimbulkan kesejukan dan ketenteraman di dalam keluarga. Menjaga pernikahan agar tetap harmonis dan mesra merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah. Sebagaimana Sabda Rasulullah, "Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah tanda bersyukur, meninggalkannya berarti kufur. Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, ia tidak mensyukuri nikmat yang banyak. Dan barangsiapa tidak berterima kasih pada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Bersatu adalah rahmat dan bercerai adalah siksa." (HR. Baihaqi).



Wassalam,

M. Agus Syafii